Breaking News
Join This Site
Peraturan Adat Bag.2

Peraturan Adat Bag.2


2. Upacara Adat


1. Upacara Sepanjang Kehidupan Manusia

Upacara sepanjang kehidupan manusia ini dapat pula dibedakan sbb:

Lahir yang didahului oleh upacara kehamilan
Upacara Karek Pusek (Kerat pusat)
Upacara Turun Mandi dan Kekah (Akekah)
Upacara Sunat Rasul
Mengaji di Surau
Tamat Kaji (khatam Qur'an)

Setelah melalui upacara-upacara pada masa kehamilan dan sampai lahir dan seterusnya maka dilanjutkan dengan acara-acara semasa remaja dan terutama sekali bagi anak laki-laki. Pada masa remaja ada pula acara-acara yang dilakukan berkaitan dengan ilmu pengetahuan adat dan agama. Upacara-upacara semasa remaja ini adalah sbb:

manjalang guru (menemui guru) untuk belajar. Orang tua atau mamak menemui guru tempat anak kemenakannya menuntut ilmu. Apakah guru dibidang agama atau adat. Anak atau keponakannya diserahkan untuk dididik sampai memperoleh ilmu pengetahuan yang diingini.

Balimau. Biasanya murid yang dididik mandi berlimau dibawah bimbingan gurunya. Upacara ini sebagai perlambang bahwa anak didiknya dibersihkan lahirnya terlebih dahulu kemudian diisi batinnya dengan ilmu pengetahuan.
Batutue (bertutur) atau bercerita. Anak didik mendapatkan pengetahuan dengan cara gurunya bercerita. Di dalam cerita terdapat pengajaran adat dan agama.


Mengaji adat istiadat. Didalam pelajaran ini anak didik mendapat pengetahuan yang berkaitan dengan Tambo Alam Minangkabau dan Tambo Adat.

baraja tari sewa dan pancak silek (belajar tari sewa dan pencak silat). Untuk keterampilan dan ilmu beladiri maka anak didik berguru yang sudah kenamaan.

Mangaji halam jo haram (mengaji halal dengan haram). Pengetahuan ini berkaitan dengan pengajaran agama.

Mengaji nan kuriek kundi nan merah sago, nan baiek budi nan indah baso (mengaji yang kurik kundi nan merah sago, yang baik budi nan indah baso), pengajaran yang berkaitan dengan adat istiadat dan moral.

Setelah dewasa maka upacara selanjutnya adalah upacara perkimpoian. Pada umumnya masyarakat Minangkabau beragama Islam, oleh karena itu dalam masalah nikah kimpoi sudah tentu dilakukan sepanjang Syarak. Dalam pelaksanaan nikah kimpoi dikatakan "nikah jo parampuan, kimpoi dengan kaluarga". Dengan pengertian ijab kabul dengan perantaraan walinya sepanjang Syarak, namun pada hakekatnya mempertemukan dua keluarga besar, dua kaum, malahan antara keluarga nagari. Pada masa dahulu perkimpoian harus didukung oleh kedua keluarga dan tidak membiarkan atas kemauan muda-mudi saja. Dalam proses perkimpoian acara yang dilakukan adalah sbb:

Pinang-maminang (pinang-meminang)
Mambuek janji (membuat janji)
Anta ameh (antar emas), timbang tando (timbang tando)
Nikah
Jampuik anta (jemput antar)
Manjalang, manjanguak kandang (mengunjungi, menjenguk kandang). Maksudnya keluarga laki-laki datang ke rumah calon istri anaknya
Baganyie (merajuk)
Bamadu (bermadu)
Dalam acara perkimpoian setiap pertemuan antara keluarga perempuan dengan keluarga laki-laki tidak ketinggalan pidato pasambahan secara adat.

Akhir kehidupan di dunia adalah kematian. Pada upacara yang berkaitan dengan kematian tidak terlepas dari upacara yang berkaitan dengan adat dan yang bernafaskan keagamaan. Acara-acara yang diadakan sebelum dan sesudah kematian adalah sbb:

Sakik basilau, mati bajanguak (sakit dilihat, mati dijenguk)
Anta kapan dari bako (antar kafan dari bako)
Cabiek kapan, mandi maik (mencabik kafan dan memandikan mayat)
Kacang pali (mengantarkan jenazah kek kuburan)
Doa talakin panjang di kuburan
Mengaji tiga hari dan memperingati dengan acara hari ketiga, ketujuh hari, keempat puluh hari, seratus hari dan malahan yang keseribu hari. Pada masa dahulu acara-acara ini memerlukan biaya yang besar.

2. Upacara Yang Berkaitan dengan Perekonomian

Upacara yang berkaitan dengan perekonomian seperti turun kesawah, membuka perladangan baru yang dilakukan dengan upacara-upacara adat. Untuk turun kesawah secara serentak juga diatur oleh adat. Para pemangku adat mengadakan pertemuan terlebih dahulu, bila diadakan gotong royong memperbaiki tali bandar dan turun kesawah. Untuk menyatakan rasa syukur atas rahmat yang diperoleh dari hasil pertanian biasanya diadakan upacara-upacara yang bersifat keluarga maupun melibatkan masyarakat yang ada dalam kampung. Pada masa dahulu diadakan pula upacara maulu tahun (hulu tahun), maksudnya pemotongan padi yang pertama sebelum panen keseluruhan. Diadakan upacara selamatan dengan memakan beras hulu tahun ini. Upacara dihadiri oleh Ulama dan Ninik mamak serta sanak keluarga. Adapun acara yang berkaitan dengan turun kesawah ini adalah sbb:

Gotong royong membersihkan tali bandar
Turun baniah, maksudnya menyemaikan benih
Turun kasawah (turun ke sawah)
Batanam (bertanam)
Anta nasi (megantarkan nasi)
Basiang padi (membersihkan tanaman yang mengganggu padi)
Tolak bala (upacara untuk menolak segala malapetaka yang mungkin menggagalkan pertanian)
manggaro buruang (mengusir burung)
Manuai (menuai), manyabik padi (potong padi)
Makan ulu tahun (makan hulu pertahunan)
Tungkuk bubuang (telungkup bubung)
Zakat.

3. Upacara Selamatan

Dalam kehidupan sehari-hari di tengah masyarakat banyak ditemui upacara selamatan. Bila diperhatikan ada yang sudah diwarisi sebelum Islam masuk ke Minangkabau. Doa selamat ini untuk menyatakan syukur atau doa selamat agar mendapat lindungan dari Tuhan Yang Maha Esa. Beberapa upacara yang termasuk doa selamatan ini seperti :

Upacara selamatan atas kelahiran, turun mandi, bacukua (bercukur), atau memotong rambut pertama kali.

Upacara selamatan dari suatu niat atau melepas nazar. Sebagai contoh setelah sekian lama sakit dan si sakit kemudian atau keluarganya berniat bila seandainya sembuh akan dipanggil orang siak dan sanak famili untuk menghadiri upacara selamatan.

Selamat pekerjaan selesai.
Selamat pulang pergi naik haji
Selamat lepas dari suatu bahaya
Selamat hari raya
Selamat kusuik salasai, karuah manjadi janiah (selamat kusut selesai, keruh menjadi jernih).

Upacara selamat diadakan karena adanya penyelesaian mengenai suatu permasalahan baik yang menyangkut dengan masalah kekeluargaan maupun yang menyangkut dengan adat, Maulud nabi,dll

Dengan banyaknya upacara yang dilakukan dalam masyarakat Minangkabau secara tidak langsung juga sebagai sarana komunikasi dalam kehidupan bermasyarakat dan juga dalam alih generasi yang berkaitan dengan adat dan agama di Minangkabau.


3. P E N G H U L U

1.*Arti Penghulu

Setelah nenek moyang orang Minang mempunyai tempat tinggal yang tetap maka untuk menjamin kerukunan, ketertiban, perdamaian dan kesejahteraan keluarga, dibentuklah semacam pemerintahan suku.
Tiap suku dikepalai oleh seorang Penghulu Suku.

Hulu artinya pangkal, asal-usul, kepala atau pemimpin. Hulu sungai artinya pangkal atau asal sungai yaitu tempat dimana sungai itu berasal atau berpangkal. Kalang hulu artinya penggalang atau pengganjal kepala atau bantal.

Penghulu berarti Kepala Kaum
Semua Penghulu mempunyai gelar Datuk
Datuk artinya " Orang berilmu - orang pandai yang di Tuakan" atau Datu-datu.

Kedudukan penghulu dalam tiap nagari tidak sama. Ada nagari yang penghulunya mempunyai kedudukan yang setingkat dan sederajat. Dalam pepatah adat disebut "duduk sama rendah tegak sama tinggi". Penghulu yang setingkat dan sederajat ini adalah di nagari yang menganut "laras" (aliran) Bodi-Caniago dari keturunan Datuk Perpatih nan Sabatang.

Sebaliknya ada pula nagari yang berkedudukan penghulunyu bertingkat-tingkat yang didalam adat disebut "Berjenjang naik bertangga turun", yaitu para Penghulu yang menganut laras (aliran) Koto - Piliang dari ajaran Datuk Katumanggungan.

Balai Adat dari kedua laras ini juga berbeda. Balai Adat dari laras Bodi Caniago dari ajaran Datuk Perpatih nan Sabatang lantainya rata, melambangkan "duduk sama rendah - tegak sama tinggi".

Balai Adat dari laras Koto Piliang yang menganut ajaran Datuk Katumanggungan lantainya mempunyai anjuang di kiri kanan, yang melambangkan kedudukan Penghulu yang tidak sama, tetapi "berjenjang naik - batanggo turun".

Kendatipun kedudukan para penghulu berbeda di kedua ajaran adat itu, namun keduanya menganut paham demokrasi. Demokrasi itu tidak ditunjukkan pada cara duduknya dalam persidangan, dan juga bentuk balai adatnya yang memang berbeda, tetapi demokrasinya ditentukan pada sistem "musyawarah - mufakat". Kedua sistem itu menempuh cara yang sama dalam mengambil keputusan yaitu dengan cara "musyawarah untuk mufakat".

2.*Kedudukan dan peranan penghulu

Di dalam pepatah adat disebut;
Luhak Bapanghulu
Rantau barajo
Hal ini berarti bahwa penguasa tertinggi pengaturan masyarakat adat di daerah Luhak nan tigo - pertama Luhak Tanah Datar - kedua Luhak Agam dan ketiga Luhak 50-Koto berada ditangan para penghulu. Jadi penghulu pemegang peranan utama dalam kehidupan masyarakat Adat.
Pepatah merumuskan kedudukan dan peranan penghulu itu sebagai berikut;
Nan tinggi tampak jauh *(Yang tinggi tampak jauh)
Nan gadang jolong basuo *(Yang besar mula ketemu)
Kayu gadang di tangah padang *(Pohon besar di tengah padang)
Tampek balinduang kapanasan *(Tempat berlindung kepanasan)
Tampek bataduah kahujanan *(Tempat berteduh kehujanan)
Ureknyo tampek baselo *(Uratnya tempat bersila)
Batangnyo tampek basanda *(Batangnya tempat bersandar)
pai tampek batanyo *(Pergi tempat bertanya)
Pulang tampek babarito *Pulang tempat berberita
Biang nan akan menambuakkan (*Biang yang akan menembus)
Gantiang nan akan mamutuihkan (*Genting yang akan memutus)
Tampek mangadu sasak sampik *(Tempat mengadu kesulitan)

Dengan ringkas dapat dirumuskan kedudukan dan peranan Penghulu sebagai berikut;
Sebagai pemimpin yang diangkat bersama oleh kaumnya sesuai rumusan adat
Jadi Penghulu sakato kaum
Jadi Rajo sakato alam
Sebagai pelindung bagi sesama anggota kaumnya.
Sebagai Hakim yang memutuskan semua masalah dan silang sengketa dalam kaumnya.
Sebagai tumpuan harapan dalam mengatasi kehidupan kaumnya.

3. Syarat-syarat untuk menjadi Penghulu

Baik buruknya keadaan masyarakat adat akan ditentukan oleh baik buruknya Penghulu dalam menjalankan keempat fungsi utamanya diatas.
Pepatah menyebutkan sebagai berikut;

Elok Nagari dek Penghulu
Elok tapian dek nan mudo
Elok musajik dek Tuanku
Elok rumah dek Bundo Kanduang.

Oleh karena Penghulu mempunyai tugas yang berat dan peranan yang sangat menentukan dalam masyarakat adat, maka dengan sendirinya yang harus diangkat jadi penghulu itu, adalah orang yang mempunyai "bobot" atas sifat-sifat tertentu.

Perlu dicatat disini bahwa Adat Minang secara mutlak menetapkan bahwa penghulu hanya pria dan tidak boleh wanita. Disini jelas dan mutlak pula bahwa sistem kekerabatan matrilinial tidak dapat diartikan dengan "wanita yang berkuasa". Satu dan lain karena keempat unsur utama seorang penghulu seperti sebagai Pemimpin, Pelindung, Hakim dan Pengayom yang merupakan unsur-unsur yang sangat dominan dalam menentukan "kekuasaan", berada di tangan pria yaitu di tangan penghulu yang justru mutlak seorang pria itu.

Pepatah adat menetapkan sifat-sifat orang yang disyaratkan menjadi penghulu itu adalah sebagai berikut;

Nan cadiak candokio *(Yang cerdik cendekia)
Nan arif bijaksano *(Yang arif bijaksana)
nan tau diunak kamanyangkuik *(Yang tahu duri yang akan menyangkut)
nan tau dirantiang kamancucuak *(Yang tahu ranting yang akan menusuk)
Tau diangin nan basiru *(Tahu angin yang melingkar)
Tau di ombak nan badabua *(Tahu ombak yang berdebur)
Tau dikarang nan baungguak *(Tahu karang yang beronggok)
Tau dipasang turun naiak *(Tahu pasang turun naik)
Tau jo ereng gendeng *(Tahu sindiran tingkah polah)
Tau dibayang kato sampai *(Tahu bayangan ujud kata)
alun bakilek lah bakalam *(Belum dijelaskan sudah paham)
Sakilek ikan dalam aie *(Selintas ikan dalam air)
Jaleh jantan batinyo *(Jelas sudah jantan betinanya)
Tau di cupak nan duo *(Tahu dengan undang-undang yang dua puluh)
Paham di Limbago nan sapuluah *(Tahu dengan lembaga hukum yang sepuluh.)


Dapat disimpulkan terdapat 4 (empat) syarat utama untuk dapat diangkat menjadi Penghulu diluar persyaratan keturunan sebagai berikut;

Berpengetahuan dan mempunyai kadar intelektual yang tinggi atau cerdik pandai.
Orang yang arif bijaksana.
Paham akan landasan pikir dan Hukum Adat Minang.
Hanya kaum pria yang akil-balig, berakal sehat.

4. *Sifat-Sifat Penghulu

Pakaian penghulu melambangkan sifat-sifat dan watak yang harus dipunyai oleh seorang penghulu. Arti kiasan yang dilambangkan oleh pakaian itu digambarkan oleh Dt. Bandaro dalam bukunya "Tambo Alam Minangkabau" dalam bahasa Minang sebagai berikut;

a. *Destar

Niniek mamak di Minangkabau *(Niniek mamak di Minangkabau)

Nan badeta panjang bakaruik *(Yang berdestar panjang berkerut)

Bayangan isi dalam kuliek *(Bayangan isi dalam kulit)

Panjang tak dapek kito ukue *(Panjang tak dapat kita ukur)

Leba tak dapek kito belai *(Lebar tak dapat kita sambung)

Kok panjangnyo pandindiang korong *(Panjangnya pendinding kampung)

Leba pandukuang anak kamanakan *(Lebarnya pendukung anak kemenakan)
Hamparan di rumah tanggo**(Hamparan di rumah tangga)

Paraok gonjong nan ampek *(Penutup gonjong yang empat)

Tiok liku aka manjala *(Tiap liku akal menjalar)

Tiok katuak ba undang undang *(Tiap lipatan berundang-undang)

Dalam karuik budi marangkak (*Dalam kerutan budi merangkak)

Tambuak dek paham tiok lipek *(Tembus karena paham tiap lipatan)

Manjala masuak nagari. *(Menjalar masuk negeri.)

*


b. Baju

Babaju hitam gadang langan
Langan tasenseng tak pambangih *
Pangipeh Angek naknyo dingin *
Pambuang nan bungkuak sarueh *
Siba batanti timba baliek *
Gadang barapik jo nan ketek *
Tando rang gadang bapangiriang *
Tatutuik jahit pangka langan *
Tando membuhue tak mambuku *
Tando mauleh tak mangasan *
Lauik tatampuah tak berombak *
Padang ditampuah tak barangin *
Takilek ikan dalam aie *
Lah jaleh jantan batinonyo *
Lihienyo lapeh tak bakatuak *
Tando pangulu padangnyo lapang *alamnyo leba *
Indak basaku kiri jo kanan *
Tandonyo indak pangguntiang *dalam lipatan *
Indak panuhuak kawan seiriang


c.* sarawa

Basarawa hitam ketek kaki *
kapanuruik alue nan luruih *
panampuah jalan nan pasa *
ka dalam korong jo kampuang *
sarato koto jo nagari *
Langkah salasai baukuran
martabat nan anam membatasi *
murah jo maha ditampeknyo *
ba ijo mako bakato *
ba tolam mako bajalan


d. *Kain Sarung

Sarung sabidang ateh lutuik
patuik senteng tak bulieh dalam *
patuik dalam tak bulieh senteng
karajo hati kasamonyo *
mungkin jo patuik baukuran *
murah jo maha ditampeknyo
*

e. *Karih

Sanjatonyo karih kabasaran
samping jo cawek nan tampeknyo
sisiknyo tanaman tabu *
lataknyo condong ka kida *
dikesong mako dicabuik *
Gembonyo tumpuan puntiang
Tunangannyo ulu kayu kamat *
bamato baliak batimba *
tajamnyo bukan alang kapalang *
tajamnyo pantang melukoi *
mamutuih rambuik diambuihkan *
Ipuahnyo turun dari langit *
bisonyo pantang katawaran *
jajak ditikam mati juo *
ka palawan dayo rang aluih *
ka palunak musuh di badan *
bagai papatah gurindam adat *
Karih sampono Ganjo Erah *
lahie bathin pamaga diri *
Kok patah lidah bakeh Allah *
patah karih bakeh mati
*

f. *Tungkek

Pamenannyo tungkek kayu kamat
ujuang tanduk kapalo perak *
panungkek adat jo pusako *
Gantang nak tagak jo lanjuangnyo *
sumpik nan tagak jo isinyo*


5. *Peringatan bagi Penghulu

Falsafah pakaian rang penghulu *Di dalam luhak Ranah Minang

Kalau ambalau meratak ulu *
Puntiang tangga mato tabuang *
Kayu kuliek mengandung aie *
Lapuknyo sampai kapanguba *
Binaso tareh nan di dalam *
Kalau penghulu berpaham caie *
Jadi sampik alam nan leba *
Dunia akhirat badan tabanam *
Elok nagari dek pangulu *
Rancak tapian dek nan mudo *
Kalau kito mamacik ulu *
Pandai menjago puntiang jo mato *
Petitih pamenan andai *Petitih
Gurindam pamenan kato *
Jadi pangulu kalau tak pandai *
Caia nagari kampung binaso *
Adat ampek nagari ampek *
Undangnyo ampek kito pakai *U
Cupak jo gantang kok indak dapek *
Luhak nan tigo tabangkalai *
Payakumbuah baladang kunik *
Dibao urang ka Kuantan *
Bapantang kuning dek kunik *
Tak namuah lamak dek santan


Sumber : www.cimbuak.net